PHARMACY OF COMMUNITY

PHARMACY OF COMMUNITY
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI INDONESIA (STIFI) BHAKTI PERTIWI PALEMBANG

Senin, 04 Agustus 2014

MAKALAH FILSAFAT ILMU DAN ETIKA AKADEMIKA SEJARAH FARMASI

MAKALAH FILSAFAT ILMU DAN ETIKA AKADEMIKA
SEJARAH FARMASI



 


Disusun oleh :
ZULVA ARRASYIED
DAFTAR ISI
Kata Pengantar                                                                                               i
Daftar Isi                                                                                                         ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang                                                                                    1
1.2  Rumusan Masalah                                                                               2
1.3  Tujuan                                                                                                 2
1.4  Manfaat                                                                                               2
BAB II PEMBAHASAN
1.1  Sejarah Farmasi                                                                                   3
1.2  Perkembangan Farmasi                                                                       6
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan                                                                                        15
DAFTAR PUSTAKA                                                                                                16
 



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Obat merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Di era  ini setiap orang dapat dengan mudah memperoleh obat yang dibutuhkan dengan cara membeli di apotek-apotek terdekat. Bahkan obat juga dapat dengan mudah dibeli di warung-warung pinggir jalan.
Begitu mudahnya manusia memperoleh ramuan yang dapat membantu memulihkan kesehatan dalam waktu yang relative singkat. Tidak dapat dibayangkan dahulu untuk mencari obat tidaklah semudah seperti saat ini. Seseorang harus berkutat dengan berbagai macam ramuan yang diyakini dapat menyembuhkan suatu penyakit tanpa ada kejelasan tentang kandungan apa saja yang ada didalam ramuan tersebut.
Pada awalnya semua ilmu pengobatan berawal dari coba-coba. Apabila suatu ramuan berhasil menyembuhkan suatu penyakit, maka ramuan tersebjut akan digunakan seterusnya secara turun-temurun untuk menyembuhkan penyakit yang sama. Hal inilah yang mendasari lahirnya ilmu tentang pengobatan.
Perkembangan ilmu pengetahuan telah membawa banyak perubahan disegala aspek kehidupan. Tidak terkecuali ilmu pengobatan. Selama berabad-abad lamanya, setelah ditemukannya teknologi-teknologi yang dapat membantu manusia dalam melakukan berbagai penelitian, pengobatan pun turut mengalami kemajuan. Obat yang pada awalnya hanya diproduksi terbatas dan terkadang hanya terdapat di daerah tertentu kini dapat dimanfaatkan dan dikonsumsi secara universal. Hal ini salah satunya merupakan dampak karena adanya kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Oleh karena itu, penulis membuat makalah berjudul “Sejarah Farmasi” yang akan membahas sejarah dunia pengobatan atau sejarah dari farmasi serta perkembangannya hingga saat ini.
1.2    Rumusan Masalah
1.2.1             Bagaimana sejarah awal mula ilmu kefarmasian ?
1.2.2             Bagaimana perkembangan ilmu farmasi hingga saat ini ?
1.3    Tujuan
1.3.1             Untuk mengetahui sejarah awal mula ilmu kefarmasian
1.3.2             Untuk mengetahui perkembangan ilmu farmasi hingga saat ini
1.4         Manfaat
1.4.1             Dapat mengetahui sejarah awal mula ilmu kefarmasian
1.4.2             Dapat mengetahui perkembangan ilmu farmasi hingga saat ini.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1  AWAL MULA FARMASI

Farmasi berasal dari kata “PHARMACON” yang berarti obat atau racun. Sedangkan pengertian farmasi adalah suatu profesi di bidang kesehatan yang meliputi kegiatan-kegiatan di bidang penemuan, pengembangan, produksi, pengolahan, peracikan, informasi obat dan distribusi obat.
Ilmu farmasi awalnya berkembang dari para tabib dan pengobatan tradisional yang berkembang di Yunani, Timur-Tengah, Asia kecil, Cina, dan Wilayah Asia lainnya. Mulanya “ilmu pengobatan” dimiliki oleh orang tertentu secara turun-temurun dari keluarganya. Di negara Cina, para tabib mendapatkan ilmunya dari keluarga secara turun-temurun. Itu gambaran “ilmu farmasi” kuno di Cina.
Sedangkan  di Yunani, yang biasanya dianggap sebagai tabib adalah pendeta. Dalam legenda kuno Yunani, Asclepius, Dewa Pengobatan menugaskan Hygieia untuk meracik campuran obat yang ia buat. Oleh mmasyarakat Yunani, Hygiea disebut sebagai apoteker (Inggris : apothecary). Sedangkan di Mesir, praktek farmasi dibagi dalam dua pekerjaan, yaitu : Yang mengunjungi orang sakit dan yang bekerja di kuil menyiapkan racikan obat.
 Buku tentang bahan obat-obatan pertama kali ditulis di Cina sekitar 2735 SM. Para pengguna awal Cina dikenal pada materia medica adalah Shennong Bencao Jing (Herb-Akar Klasik Petani Divine), datang kembali ke abad 1. Bahan-bahan tersebut dikumpulkan selama dinasti Han dan dikaitkan dengan mitos Shennong . Literatur sebelumnya termasuk daftar resep untuk penyakit tertentu, dicontohkan oleh "Resep untuk 52 Penyakit" manuskrip, ditemukan di makam Mawangdui, disegel di 168 SM.  
Dioscorides, De Materia Medica , Byzantium, abad ke-15
Kemudian sekitar tahun 400 SM berdirilah sekolah kedokteran di Yunani. Salah seorang muridnya adalah Hipocrates yang menempatkan profesi tabib pada tataran etik yang tinggi. Ilmu farmasi secara perlahan berkembang.

Dokter dan apoteker, ilustrasi dari Medicinarius (1505) oleh Hieronymus Brunschwig .
 Di dunia Arab pada abad VIII, ilmu farmasi yang dikembangkan oleh para ilmuawan Arab menyebar luas sampai ke Eropa. Pada masa ini sudah mulai dibedakan peran antara seorang herbalist dengan kedokteran terjadi pada tahun 1240 ketika Kaisar Frederick II dari Roma melakukan pemisahan tersebut. Maklumat yang dikeluarkan tentang pemisahan tersebut menyebutkan bahwa masing-masing ahli ilmu mempunyai keinsyafan, standar etik, pengetahuan, dan keterampilan sendiri-sendiri yang berbeda dengan ilmu lainnya. Dengan keluarnya maklumat kaisar ini, maka mulailah sejarah baru perkembangan ilmu farmasi sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Berdasarkan hal tersebut maka lambang Ilmu Farmasi dan Kedokteran Berbeda. Ilmu Farmasi memakai lambang cawan dililit ular sedangkan kedokteran tongkat dililit ular.
            Perkembangan ilmu farmasi kemudian menyebar hampir ke seluruh dunia. Mulai Inggris, Amerika Serikat, dan Eropa Barat. Sekolah Tinggi Farmasi yang pertama didirikan di Philadelphia, Amerika Serikat pada tahun 1821 (sekarang sekolah tersebut bernama Philadelphia College of Pharmacy and Science). Setelah itu, mulailah era baru ilmu farmasi dengan bermunculannya sekolah-sekolah tinggi dan fakultas-fakultas di universitas.
            Peran organisasi keprofesian atau keilmuwan juga ditentukan perkembangan ilmu farmasi. Sekarang ini banyak sekali organisasi ahli farmasi baik lingkup nasional maupun internasional. Di Inggris, organisasi profesi pertama kali didirikan pada tahun 1841 dengan nama “The Pharmaceutical Society of Great Britain”. Sedangkan, di Amerika Serikat menyusul 11 tahun kemudian dengan nama “American Pharmaceutical Association”. Organisasi internasionalnya akhirnya didirikan pada tahun 1910 dengan nama “Federation International Pharmaceutical”.
            Sejarah industri farmasi modern dimulai 1897 ketika Felix Hoffman menemukan cara menambahkan dua atom ekstra karbon dan lima atom ekstra karbon dan lima atom ekstra hidrogen ke adlam sari pati kulit kayu willow. Hasil penemuannya ini dikenal dengan nama Aspirin, yang akhirnya menyebabkan lahirnya perusahaan industri farmasi modern di dunia, yaitu Bayer. Selanjutnya, perkembangan (R & D) pasca Perang Dunia I. Kemudian, pada Perang Dunia II para pakar berusaha menemukan obat-obatan secara massal, seperti obat TBC, hormaon steroid, dan kontrasepsi serta antipsikotika.
            Sejak saat itulah, dunia farmasi  terus berkembang dengan didukung oleh berbagai penemuan di bidang lain, misalnya penggunaan bioteknologi. Sekolah-sekolah farmasi saat ini hampir dijumpai di seluruh dunia. Kiblat perkembangan ilmu, kalau boleh kita sebut, memang Amerika Serikat dan Jerman (karena di sanalah industri obat pertama berdiri).
            Perkembangan farmasi boleh dibilang dimulai ketika berdirinya pabrik kina di Bandung pada tahun 1896. Kemudian, terus berjalan sampai sekitar tahun 1950 di mana pemerintah mengimpor produk farmasi jadi ke Indoneisa. Perusahaan-perusahaan lokal pun bermunculan, tercatat ada Kimia Farma, Indofarma, Biofarma, dan lainnya. Di dunia pendidikan sendiri, sekolah tinggi atau fakultas farmasi juga dibuka di berbagai kota.
2.1 PERKEMBANGAN FARMASI
Melihat dunia kefarmasian dari sudut pandang sejarah mungkin termasuk sesuatu yang langka di Indonesia, tak terkecuali di kalangan para farmasis sendiri. Padahal,sejarah merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk merumuskan rencana masa depan yang lebih baik. Berikut ini perkembangan dunia farmasi mulai dari zaman pra sejarah.
1.        Zaman Prasejarah



Farmasi telah ada sejak pemikiran manusia mulai berkembang meski dalam bentuk yang sangat sederhana. Manusia purba belajar dengan menggunakan insting dan observasi terhadap burung-burung dan hewan-hewan buas. Mereka juga memanfaatkan air dingin, daun, kotoran, dan lumpur. Dengan berbagai usaha yang bersifat coba-coba, manusia purba mempelajari berbagai hal untuk menolong sesamanya. Dalam waktu singkat, mereka dapat menggunakan pengetahuannya dan bermanfaat bagi orang lain. Meskipun menggunakan metode yang masih kasar, beberapa obat masa kini berasal dari sumber-sumber yang telah digunakan oleh nenek moyang kita tersebut.
2.        Farmasi pada Masa Babylonia Kuno



 
Babylon, permata bagi Mesopotamia kuno, sering disebut juga sebagai tempat munculnya peradaban manusia, adalah yang pertama menemukan dan melaksanakan praktek peracikan obat. Para ahli penyembuh ketika itu (sekitar 2600 SM) melaksanakan tiga peran berbeda secara bersamaan sebagai agamawan, dokter, dan apoteker. Naskah-naskah medik ditulis di atas tablet tablet tanah liat yang berisikan gejala-gejala penyakit, resep dan cara peracikan obat, dan juga doa-doa. Orang-orang babylon telah berhasil menemukan hal-hal penting dalam upaya penyembuhan penyakit yang pada masa sekarang dikenal dengan farmasetik modern, ilmu kedokteran, serta kegiatan-kegiatan spiritual.
3.        Farmasi pada Masa Cina Kuno



 
Kefarmasian di Cina menurut legenda pertama kali dikembangkan oleh Shen Nung (sekitar 2000 SM). Seorang kepala suku yang telah mencari dan menginvestigasi khasiat obat dari ratusan herbal. Beliau diyakini mencobakan beberapa herbal tersebut terhadap dirinya sendiri, serta menulis Pen T-Sao pertama, tulisan tentang herbal-herbal asli yang berisikan 365 jenis obat-obatan. Sesuatu yang masih dipuja oleh orang cina asli penghasil obat sebagai wujud perlindungan Tuhan untuk mereka. Shen Nung secara menakjubkan menguji beberapa herbal, kulit kayu, dan akar yang diperoleh dari ladang, rawa-rawa, dan hutan yang masih dikenal dalam bidang kefarmasian hingga kini. Menggunakan background “Pa Kua”, suatu simbol matematis dari penciptaan dan kehidupan. Tanaman-tanaman obat yang ditemukan oleh Shen Nung antara lain podophyllum, rhubarb, ginseng, stramonium, kulit kayu cinnamon, dan jugaseperti yang berada di tangan bocah pada gambar, ma huang, atau disebut juga ephedra.
4.        Papyrus Ebers



 

           
Praktek pengobatan di Mesir telah berlangsung sejak tahun 2900 SM dan mereka juga diketahui memiliki catatan formula obat fenomenal, Papyrus Ebers, yang dibuat sejak 1500 SM. Papyrus Ebers tersebut memuat sekitar 800 formula dan 700 macam obat-obatan. Pusat farmasi di Negara Mesir kuno diselenggarakan oleh dua orang pejabat negara yang bertindak sebagai Ahli Farmasi di suatu ruangan yang disebut sebagai “Rumah Kehidupan”. Dengan seting kira-kira seperti gambar ini, Papyrus Ebers didiktekan oleh seorang ahli farmasi mengenai prosedur formulasi yang sedang dikerjakan.


5.        Bapak Botani: Theophrastus



 
           
Theoprastus (sekitar 300 SM) adalah sosok ilmuan Yunani kuno ternama yang dikenal sebagai filosof besar dan ahli dalam ilmu alam dan disebut-sebut sebagai Bapak Botani. Berbagai observasi dan pengamatan yang dilakukannya mengenai medis dan herba merupakan suatu pencerahan bagi pemahaman manusia. Beliau bertindak sebagai pengajar bagi sekumpulan siswa yang mempunyai minat yang sama dengannya. Di dalam gambar ini Beliau memperagakan tanaman Belladonna, dan di belakangnya terletak bunga pomegranate, senna, dan juga manuskrip-manuskrip perkamen. Siswa juga terlihat menggunakan papan gading yang dilapisi madu warna sebagai alat tulis.
           6.        Sang Toksikolog: Mithridates VI



 
Mithridates VI adalah seorang raja negeri Pontus (sekitar 100 SM) yang senantiasabertempurmelawan kekaisaran Romawi. Beliau adalah ilmuan toksikologi yang menemukan tidak hanya tentang berbagai jenis racun, namun juga bagaimana mencegah dan mengobati efek racun. Mithridates VI tanpa banyak pertimbangan menggunakan tubuhnya sendiri dan juga tubuh para tahanan sebagai "kelinci percobaan" dalam mengujicoba berbagai racun dan antiracun. tampak dalam gambar, di belakang Mithridates terletak rhizotomists, offering fresh, flowering aconite, ginger,dan gentian. Dan di kanan bawah gambar terletak dua buah wadah biang sampanye. formulayang diramu Mithridates yang paling terkenal adalah suatu panantidotal yang populer digunakan selama kurang lebih seribu tahun yang dikenal dengan Mithridatum.
7.    Terra Silgillata: Merek Obat Pertama





Orang-orang masa lampau telah mempelajari manfaat dari merek dagang yang merupakan identitas suatu barang yang digunakan untuk meraih konsumen. salah satu therapeutic agent yang memakai merek dagang adalah Terra Sigillata (cap Bumi), suatu tablet tanah liat yang berasal dari pulau Mediteranean di Lemnos sebelum tahun 500 SM. setiap tahunnya tanah liat digali di terowongan Lemnian dihadiri oleh pemerintah dan pendeta-pendeta. tanah liat dicuci, disuling, dan digulung dengan ketebalan tertentu, tanah liat itu dibentuk seperti pastilles dan diberi cap oleh para pendeta wanita, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari. Lalu tablet-tablet itu didistribusikan secara komersial.


7.    Dioscorides



 
Dengan adanya berbagai pencapaian dalam dunia ilmu pengetahuan serta perkembangan  yang memotivasi banyak orang melakukan observasi atau studi intensif oleh para saintis, penelitian menjadi kian penting bagi kebutuhan perdagangan dan bagi perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Pedanios Dioscorides (abad pertama masehi), adalah saintis yang telah berkontribusi dalam bidang kefarmasian. Untuk mempelajari Materia Medica, Beliau melakukan kerjasama dengan tentara romawi di seluruh dunia. Dia mencatat hasil-hasil observasi, menyampaikan tentang cara yang baik dalam mengumpulkan, menyimpan, dan menggunakan obat-obatan. Berbagai uji coba yang telah dilakukannya terus digunakan sampai pada abad keenam.
8.        Galen
Galen adalah sosok dari masa lalu yang sampai sekarang masih sangat dihormati oleh profesi farmasi dan kedokteran. Galen (tahun 130-200 M)merupakan pakar praktisi dan pendidikan farmasi dan kedokteran di Roma. metode yang diterapkannya dalam menyiapkan dan meracik obat telah digunakan di dunia barat selama 1500 tahun, dan namanya sendiri telah diasosiasikan dengan metode peracikannya yang dikenal dengan galenika. Beliau adalah penemu dari formula krim dingin, yang secara esensial adalah sama dengan krim yang kita kenal sekarang. banyak prosedur-prosedur yang ditemukan Galen masih digunakan di laboratorium peracikan modern masa kini.
9.        Damian dan Cosmas

Identiknya dua professional kesehatan, farmasi dan kedokteran, digam-barkan secara menarik oleh pasangan kembar, Damian (Farmasis) dan Cosmas (Dokter). Pasangan tersebut merupakan keturunan arab yang beragama nasrani. Mereka memasukkan unsur religius dalam pengetahuan mereka untuk membantu pasien. Karir mereka berahir pada tahun 303 M secara martir dan selama berabad-abad makam mereka di Kota Syiria (Cyprus) dianggap suci. Mereka termasuk dari deretan saintis penting yang menyokong kefarmasian dan kedokteran.
         10.    Hipocrates
Sejak masa Hipocrates (460-370 SM) yang dikenal sebagai “Bapak Ilmu Kedokteran”, belum dikenal adanya profesi Farmasi. Seorang dokter yang mendignosis penyakit, juga sekaligus merupakan seorang “Apoteker” yang menyiapkan obat. Semakin lama masalah penyediaan obat semakin rumit, baik formula maupun pembuatannya, sehingga dibutuhkan adanya suatu keahlian tersendiri. Pada tahun 1240 M, Raja Jerman Frederick II memerintahkan pemisahan secara resmi antara Farmasi dan Kedokteran dalam dekritnya yang terkenal “Two Silices”. Dari sejarah ini, satu hal yang perlu direnungkan adalah bahwa akar ilmu farmasi dan ilmu kedokteran adalah sama.
Dampak revolusi industri merambah dunia farmasi dengan timbulnya industri-industri obat, sehingga terpisahlah kegiatan farmasi di bidang industri obat dan di bidang “penyedia/peracik” obat (=apotek). Dalam hal ini keahlian kefarmasian jauh lebih dibutuhkan di sebuah industri farmasi dari pada apotek. Dapat dikatakan bahwa farmasi identik dengan teknologi pembuatan obat.
Pendidikan farmasi berkembang seiring dengan pola perkembangan teknologi agar mampu menghasilkan produk obat yang memenuhi persyaratan dan sesuai dengan kebutuhan. Kurikulum pendidikan bidang farmasi disusun lebih ke arah teknologi pembuatan obat untuk menunjang keberhasilan para anak didiknya dalam melaksanakan tugas profesinya.
Dilihat dari sisi pendidikan Farmasi, di Indonesia mayoritas farmasi belum merupakan bidang tersendiri melainkan termasuk dalam bidang MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) yang merupakan kelompok ilmu murni (basic science) sehingga lulusan S1-nya pun bukandisebut Sarjana Farmasi melainkan Sarjana Sains.
Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia (1997) dalam “informasi jabatan untuk standar kompetensi kerja” menyebutkan jabatan Ahli Teknik Kimia Farmasi, (yang tergolong sektor kesehatan) bagi jabatan yang berhubungan erat dengan obat-obatan, dengan persyaratan : pendidikan Sarjana Teknik Farmasi.
Buku Pharmaceutical handbook menyatakan bahwa farmasi merupakan bidang yang menyangkut semua aspek obat, meliputi : isolasi/sintesis, pembuatan, pengendalian, distribusi dan penggunaan.
Silverman dan Lee (1974) dalam bukunya, “Pills, Profits and Politics”, menyatakan bahwa :
1.  Pharmacist lah yang memegang peranan penting dalam membantu dokter menuliskan resep rasional. Membanu melihat bahwa obat yang tepat, pada waktu yang tepat, dalam jumlah yang benar, membuat pasien tahu mengenai “bagaimana,kapan,mengapa” penggunaan obat baik dengan atau tanpa resep dokter.
2.  Pharmacist lah yang sangat handal dan terlatih serta pakart dalam hal produk/produksi obat yang memiliki kesempatan yang paling besar untuk mengikuti perkembangan terakhir dalam bidang obat, yang dapat melayani baik dokter maupun pasien, sebagai “penasehat” yang berpengalaman.
3. Pharmacist lah yang meupakan posisi kunci dalam mencegah penggunaan obat yang salah, penyalahgunaan obat dan penulisan resep yang irrasional. Sedangkan Herfindal dalam bukunya “Clinical Pharmacy and Therapeutics” (1992) menyatakan bahwa Pharmacist harus memberikan “Therapeutic Judgement” dari pada hanya sebagai sumber informasi obat.
Di Inggris, sejak tahun 1962, dimulai suatu era baru dalam pendidikan farmasi, karena pendidikan farmasi yang semula menjadi bagian dari MIPA, berubah menjadi suatu bidang yang berdiri sendiri secara utuh.rofesi farmasi berkembang ke arah “patient oriented”, memuculkan berkembangnya Ward Pharmacy (farmasi bangsal) atau Clinical Pharmacy (Farmasi klinik).
Di USA telah disadari sejak tahun 1963 bahwa masyarakat dan profesional lain memerlukan informasi obat tang seharusnya datang dari para apoteker. Temuan tahun 1975 mengungkapkan pernyataan para dokter bahwa apoteker merupakan informasi obat yang “parah”, tidak mampu memenuhi kebutuhan para dokter akan informasi obat Apoteker yang berkualits dinilai amat jarang/langka, bahkan dikatakan bahwa dibandingkan dengan apotekeer, medical representatif dari industri farmasi justru lebih merupakan sumber informasi obat bagi para dokter.
Perkembangan terakhir adalah timbulnya konsep “Pharmaceutical Care” yang membawa para praktisi maupun para “profesor” ke arah “wilayah” pasien.
Secara global terlihat perubahan arus positif farmasi menuju ke arah akarnya semula yaitu sebagai mitra dokter dalam pelayanan pada pasien. Apoteker diharapkan setidak-tidaknya mampu menjadi sumber informasi obat baik bagi masyarakat maupun profesi kesehatan lain baik di rumah sakit, di apotek atau dimanapun apoteker berada.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2.1. Ilmu farmasi awalnya berkembang dari para tabib dan pengobatan tradisional yang berkembang di Yunani, Timur-Tengah, Asia kecil, Cina, dan Wilayah Asia lainnya
3.2.2. Perkembangan farmasi diantaranya  Zaman Prasejarah, Farmasi pada Masa Babylonia Kuno, Farmasi pada Masa Cina Kuno, Papyrus Ebers, Bapak Botani: Theophrastus, Sang Toksikolog: Mithridates VI, Terra Silgillata: Merek Obat Pertama, Dioscorides, Galen, Damian dan Cosmas, Hipocrates, dan perkembangan terakhir adalah timbulnya konsep “Pharmaceutical Care”.


DAFTAR PUSTAKA
http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_pharmacy (diakses tanggal 23 September 2012)