PHARMACY OF COMMUNITY

PHARMACY OF COMMUNITY
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI INDONESIA (STIFI) BHAKTI PERTIWI PALEMBANG

Selasa, 05 Agustus 2014

Makalah Tentang Hipnotika & Sedativa


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.         Latar Belakang 
     Hipnotika dan sedativa adalah obat depresan Susunan Saraf Pusat (SSP) yang tidak selektif, efek mulai ringan-berat (hilangnya kesadaran, anestesi, koma, mati).
     Obat-obatan, maka ini diproduksi untuk keperluan dunia medis, yaitu untuk keperluan pengobatan. Karena daya kerjanya obat-obatan tersebut sangatlah keras sehingga penggunaannyapun harus diawasi dan melalui resep dokter.
     Obat-obatan yang dimaksud jika disalahgunakan akan berpengaruh dan merusak psikis maupun fisik dari si pemakai dan mengakibatkan ketergantungan sebagaimana narkotika lainnya.
1.2.         Tujuan
     Mempelajari farmakologi golongan hipnotika dan sedativa, meliputi pengertian, penggolongan, kombinasi dan interaksi, efek samping, dan obat generiknya sehingga dapat diketahui apa yang harus diimplementasikan atau diberikan kepada pasien dan tidak menyalahgunakan penggunaan obat golongan ini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.   Pengertian
     Hipnotika dan sedativa adalah obat depresan Susunan Saraf Pusat (SSP) yang tidak             selektif, efek mulai ringan-berat (hilangnya kesadaran, anestesi, koma, mati). Sedativa digunakan dalam pengobatan cemas. Hipnotika digunakan untuk pengobatan insomnia. Ada yng berfungsi antikonvulsan: klorazepat, diazepam, fenobarbital.
    Hipnotika atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapeutik diperuntukkan untuk mempermudah atau menyebabkan tidur. Hipnotika menimbulkan rasa kantuk, mempercepat tidur, dan sepanjang malam mempertahakan keadaan tidur yang yang menyerupai tidur alamiah. Secara ideal obat tidur tidak memiliki aktivitas sisa pada keesokan harinya (Tjay, 2002).
     Perkataan hipnotika berasal dari bahasa Yunani (hypnos = tidur). Jadi, obat tidur yaitu obat yang diberikan dalam dosis pengobatan dapat mempermudah tidur atau menyebabkan tidur.
     Melihat dari definisi tersebut di atas, sebenarnya obat tidur hampir sama dengan obat penenang. Perbedaannya: Obat tidur dalam dosis pengobatan langsung dapat menyebabkan tidur, sedang obat penenang dalam dosis pengobatan tidak menyebabkan tidur.
     Hipnotika atau obat tidur adalah zat yang umumnya diberikan pada malam hari dengan tujuan untuk mempertinggi keinginan faal dan normal untuk tidur, mempermudah atau menyebabkan tidur. Jika hipnotika diberikan dalam dosis yang lebih rendah dari dosis terapinya, maka obat tersebut berfungsi sebagai sedativa (menenangkan) dan umumnya diberikan pada siang hari.
     Sedativa adalah obat yang dalam dosis lebih rendah dari terapi yang diberikan pada siang hari untuk tujuan menenangkan. Sedativa termasuk ke dalam kelompok psikoleptika yang mencakup obat-obat yang menekan atau menghambat sistem saraf pusat. Sedativa berfungsi menurunkan aktivitas, mengurangi ketegangan, dan menenangkan penggunanya (Lullmann, 2000).
     Sedativa adalah obat-obatan yang menciptakan ketenangan dan pengurangan rasa sakit dan /atau kecemasan, digunakan bersama dengan anestesi lokal untuk prosedur minor, seperti endoskopi atau perawatan gigi, atau sebelum anestesi umum.
     Hipnotika dan sedativa merupakan golongan obat pendepresi Susunan Saraf Pusat(SSP). Efeknya bergantung dosis, mulai dari ringan, yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan, hingga berat yaitu kehilangan kesadaran, keadaan anestesi, koma, dan mati. Obat-obatan hipnotika dan sedativa adalah istilah untuk obat-obatan yang mampu mendepresi sistem saraf pusat. Sedativa adalah substansi yang memiliki aktivitas moderate yang memberikan efek menenangkan, sementara hipnotika adalah substansi yang dapat memberikan efek mengantuk dan dapat memberikan onset, serta mempertahankan tidur (Tjay, 2002).
     Penggolongan suatu obat ke dalam jenis hipnotika dan sedativa menunjukkan bahwa kegunaan terapeutik utamanya adalah menyebabkan sedasi (dengan disertai hilangnya rasa cemas) atau menyebabkan kantuk. Hipnotika dan sedativa sering kali diresepkan untuk gangguan tidur karena termasuk ke dalam obat-obatan penekan sistem saraf pusat yang dapat menimbulkan depresi (penurunan aktivitas fungsional) dalam berbagai tingkat dalam Sistem Saraf Pusat (Goodman and Gilman, 2006).
     Efek hipnotika meliputi depresi Sistem Saraf Pusat yang lebih kuat daripada sedasi, hal ini dapat dicapai dengan semua obat sedativa dengan peningkatan dosis. Depresi Sistem Saraf Pusat yang bergantung pada tingkat dosis merupakan karakteristik dari hipnotika dan sedativa. Dengan peningkatan dosis yang diperluka untuk hipnotika dapat mengarah kepada keadaan anestesi umum. Masih pada dosis yang tinggi, obat hipnotika dan sedativa dapat mendepresi pusat-pusat pernafasan dan vasomotor di medulla, yang dapat mengakibatkan koma dan kematian (Katzung, 2002).
     Bentuk yang paling ringan dari penekanan Sistem Saraf Pusat adalah sedasi, dimana penekanan Sistem Saraf Pusat tertentu dalam dosis yang lebih rendah dapat menghilangkan respon fisik dan mental, tetapi tidak mempengaruhi kesadaran. Sedativa terutama digunakan pada siang hari, dengan meningkatkan dosis dapat menimbulkann efek hipnotika. Jika diberikan dalam dosis yang tinggi, obat-obat hipnotika dan sedativa mungkin dapat mencapai anestesi, sebagai contoh adalah barbiturat dengan masa kerja yang sangat singkat yang digunakan untuk menimbulkan anestesi, natrium thiopental (Pentothal) (Katzung, 2002).
2.2.   Penggolongan
a. Penggolongan berdasarkan struktur kimianya
1. Golongan barbiturate, seperti fenobarbital, butobarbital, siklobarbital,      
                     heksobarbital, dll.
2. Golongan benzodiazepine, seperti flurazepam, nitrazepam, flunitrazepam diazepam,
    klordiazepoksid, dan triazolam.
3. Golongan alkohol dan aldehida, seperti kloralhidrat dan turunannya serta  
    paraldehida, trikofos, dikolralfenazon.
4. Golongan bromide, seperti garam bromide ( kalium, natrium, dan ammonium ) dan
    turunan ure, seperti karbromal dan bromisoval.
5.  Golongan lain, seperti senyawa piperindindion (glutetimida) dan metaqualon.
b. Penggolongan berdasarkan lama kerjanya
    1. Ultra-shot-acting; adalah hipnotika yang cepat timbul efek dan cepat pula hilangnya.  
        Golongan obat ini sering digunakan sebagai anestetika umum. Contohnya:  
        tialbarbital, heksobarbital.
    2. Shot-acting; adalah hipnotika yang kecepatan timbulnya efek sedang (sekitar 15
        menit) dan bertahan agak singkat (2-3 jam). Golongan obat ini sering digunakan   
        sebagai obat tidur. Contohnya: siklobarbital dan sekobarbital.
   3. Intermedieate-acting; adalah hipnotika yang mulai efeknya setelah 30 menit dan
       diperkirakan dapat bertahan selama 5 jam. Contohnya: butobarbital, alobarbital, dan
       heptabarbital.
  4. Long-acting; adalah hipnotika yang mulai kerjanya setelah 8 jam dan dapat bertahan
      sekitar 6-10 jam dan dapat digunakan sebagai obat tidur lama. Contohnya; barbital,
      fenobarbital, dan metilfenobarbital.
2.3.         Kombinasi & Interaksi
a.       Kombinasi dari dua atau lebih obat hipnotika dapat memberikan efek adisi (hasil penambahan) atau potensiasi (kekuatan atau kemampuan).
b.      Pada umumnya, alkohol memperkuat efek obat hipnotika.
c.       Efek antikoagulan diperkuat oleh obat tidur, kecuali golongan benzodiazepin dan glutetimide relatif tidak mempengaruhi efek antikoagulan.
d.      Memperlemah efek kortikosteroid, tetrasiklin, antidepresan  trisiklin, dan kinidin.
e.       Kloralhidrat tidak dapat diberikan bersama furosemide karena akan menyebabkan terjsdinya vasodilatasi atau vasokontriksi pembuluh darah.
2.4.         Efek Samping
           Kebanyakan obat tidur memberikan efek samping umum yang mirip dengan morfin,
             antara lain sebagai berikut:
a.     Depresi pernafasan, terutama pada dosis tinggi, maka perlu hati-hati pada pasien asma. Contohnya flurazepam, kloralhidrat,dan paraldehida.
b.     Tekanan darah menurun, terutama oleh obat-obat golongan barbiturat.
c.    Obsipasi, yaitu pada penggunaaan lama terutama obat barbiyurat.
d.      Hang-over, yaitu efek sisa pada keesokan harinya yang dapat berupa mual, perasaan ringan di kepala dan pikiran kacau. Hal ini disebabkan oleh hampir semua hipnotika ‘long acting’. Contohnya golongan benzodiazepine dan barbiturat.
e.     Berakumulasi/berkumpul di jaringan lemak karena umumnya hipnotika bersifat lipofil (menyukai minyak).
f.   Lain-lain, seperti toleransi dan ketergantungan dan bahaya bunuh diri, contohnya glutetimid dan derivatnya, metaqualon dan derivatnya, serta golongan barbiturat.
2.5.          Obat Generik
a.       Diazepam
      Indikasi          : Hipnotika dan sedativa, anti konvulsi, relaksasi otot dan anti ansietas  
                               (obat epilepsi)
      Efek Samping: Merusak mukosa lambung usus dan ketagihan
b.      Nitrazepam
      Indikasi         : Hipnotika dan sedativa, anti konvulsi, relaksasi otot dan anti ansietas  
                              (obat epilepsi)
     Efek samping : Pada pengguanaan lama terjadi kumulasi dengan efek sisa (hang- 
                              over), gangguan koordinasi dan melantur
     c.    Flunitrazepam
    Indikasi          : Hipnotika, sedativa, anestetik premedikasi operasi
    Efek samping : Amnesia (hilang ingatan )
   d.      Kloralhidrat
   Indikasi          : Hipnotika dan sedativa
   Efek samping : Merusak mukosa lambung usus dan ketagihan
    e.    Luminal
   Indikasi          : Sedativa, epilepsi, tetanus, dan keracunan strikhnin
   Efek samping : Adiksi dan habituasi ( proses pembiasaan atau penyesuaian)
BAB III
PENUTUP
3.1.   Kesimpulan
     Obat-obatan jenis hipnotikadan sedativa adalah berbagai macam jenis obat-obatan yang diproduksi untuk keperluan dunia medis untuk pengobatan.
     Obat-obatan jenis hipnotika dan sedativa dalam penggunaannya harus dengan pengawasan dokter karena daya kerja obat-obatan jenis tersebut sangatlah keras dan menimbulkan kematian apabila terdapat penyalahgunaan.
3.2.   Saran
     Karena daya kerjanya obat-obatan tersebut sangatlah keras, sehingga penggunaannyapun harus melalui resep dokter dan harus dalam pengawasan dokter. Obat-obatan yang dimaksud tersebut jika disalahgunakan akan berpengaruh dan merusak psikis maupun fisik dari si pemakai dan mengakibatkan ketergantungan, jadi hindari penyalahgunaan obat-obatan jenis hipnotika dan sedativa karena termasuk obat-obatan narkotika.
DAFTAR PUSTAKA
Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC.
Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI.
Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC.
Informatorium Obat Nasional Indonesia 2008. BPOM Republik Indonesia.
Craig, R.Craig and Robert E.Stitzel. (2007) .Modern Pharmacology With Clinical Application-6th Ed. Lippncott Williams & Wilkin. Virginia.
Ganiswarna and Gilman. (1995) .Farmakologi dan Terapi, Jakarta,FKUI.
Goodman and Gilman. (2006). The Pharmacologic Basic of Therapeutics-11th Ed.,McGraw-Hil Companies.Inc, New York.
Katzung, G.Bertram. (2007) .Basic & Clinical Pharmacology-10th Ed. The McGraw-Hill Companies.Inc,New York.
Lullman, Heinz, [et al.]. (2000) . Color Atlas of Pharmacology 2nd Ed. Thieme. New York.
Neal,J.Michael. (2002) .Medical Pharmacology at a glance-4th Ed. Blackwell science Ltd.London.
Tjay,T.H. dan Rahardja.K. (2002) .Obat-Obat Penting. Edisi Kelima Cetakan Kedua.Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Santoso Nindia.2002.Farmakologi Kelas XI Farmasi.Cetakan Kedua.Jakarta: Departemen Kesehatan.